• ***************************************************
  • Isi form berikut ini untuk memasarkan properti Anda

    Judul
    Alamat
    LT/LB (m2)
    Lebar Depan (m)
    Posisi/Letak
    Harga (Rp.)
    Spesifikasi Bangunan
    Keterangan Lain
    Foto/Gambar
    Email / No.Telp
    Image Verification
    Please enter the text from the image
    [ Refresh Image ] [ What's This? ]

    Tampilkan postingan dengan label pengembang. Tampilkan semua postingan
    Tampilkan postingan dengan label pengembang. Tampilkan semua postingan

    Menpera Resmikan 3.385 Rumah Anggota Apersi Riau

    Jumat, Juli 30, 2010 Pekanbaru Properti 0 komentar

    Menteri Perumahan Rakyat Suharso Monoarfi meresmikan 3.385 unit RS dan RSH. Rumah-rumah tersebut hasil bangunan pengembang anggota Apersi Riau 2009-2010.


    Riauterkini-PEKANBARU- Untuk kurun waktu 2009-2010 perusahaan pengembang anggota Asosiasi Pengembang Perumahan dan Pemukiman Seluruh Indonesia (Apersi) Riau menargetkan membangun 6.000 unit rumah sederhana (RS) dan rumah sederahana huni (RSH). Sejauh ini sudah 3.385 unit RS dan RSH yang berhasil dibangun sekitar 160 anggota Apersi Riau.



    Peresmian 3.385 unit RS dan RSH bangunan anggota Apersi Riau tersebut dilakukan Menteri Perumahan Rakyat Siharso Monoarfi di Perumahan Pesona Asri di Kecamatan Payung Sekaki, Kota Pekanbaru, Rabu (28/7/10). Dalam peresmian tersebut Menpera didampingi Wakil Gubernur Riau Raja Mambang Mit.

    Peresmian tersebut dilakukan usai membuka Rapat Kerja Daerah (Rakerda) Apersi Riau di Hotel Pangeran Pekanbaru. Rakerda tersebut digelar dalam rangka menyusun program kerja anggota Apersi Riau sepanjang 2010. 

    Menurut Ketua DPD Apersi Riau Herwanto, saat ini pengembang yang menjadi anggota Apersi Riau sekitar 160 perusahaan. Dari jumlah tersebut sekitar 130 masih aktif. Sejauh ini program kerja Apersi Riau berjalan dengan baik. Hal itu bisa dilihat dari realisasi pembangunan RS dan RSH. Dari 6.000 unit yang ditargetkan pada 2010 ini, sudah terbangun sekitar 5.000 unit, 3.385 unit di antaranya yang hari ini diresmikan Menpera. 

    “Kami yakin target membangun 6.000 unit RS dan RSH bisa tercapai tahun ini,” ujar Herwanto kepada riauterkini usai pembukaan Rakerda.

    Dalam kesempatan itu Herwanto menyambut baik rencana Menpera mengajukan perubahan mekanisme subsidi perumahan. Jika selama ini pola subsidi diberikan untuk cicilan selama 4 tahun, maka ke depan, setelah berubahan, konsumen perumahan RSH akan mendapatkan fasilitas suku bunga rendah selama waktu masa cicilan.

    sumber : http://www.riauterkini.com

    [+/-] Selengkapnya...

    Krisis Listrik dan Konsuil Sulitkan Pengembang Jual Rumah

    Rabu, Maret 24, 2010 Pekanbaru Properti 0 komentar

    Bertambahnya beban biaya karena keberadaan Konsuil cukup membuat pengembang susah jual rumah. APERSI berharap persoalan tersebut dapat teratasi.

    Riauterkini-PEKANBARU-Ketua Asosiasi Pengembang Perumahan dan Pemukiman Seluruh Indonesia (APERSI) Riau, Herwanto kepada Riauterkini Senin (23/3/10) mengatakan bahwa sektor properti menemui kendala dengan permasalahan kelsitrikan di Riau. Masalah tersebut membuat pengembang kesulitan menjual rumah.

    Bukan hanya masalah kelistrikan saja yang menjadi kendala pengembang dalam menjual rumah kepada konsumen. Masalah perumahan yang wajib memiliki Sertifikat Layak Operasional (SLO) yang otomatis memerlukan dana cukup membebani biaya para pengembang. Pasalnya, pengembang hanya menyediakan dana untuk mendapatkan SLO dari Konsuil.

    "Kami kesulitan menjual rumah. Karena listriknya hingga kini masih susah untuk penyambungan baru dari PLN. Belum lagi masalah kewajiban perumahan untuk memiliki Sertivikat Layak Operasional (SLO) yang dikeluarkan Konsuil yang menambah beban biaya para pengembang," terangnya.

    Beban biaya untuk memiliki SLO didistribusikan pengembang kepada konsumen. Karena kalau ditanggung pengembang, bukannya untung, pengembang malah rugi. Jadi biaya SLO didistribusikan kepada konsumen. ujung-ujungnya menambah harga beli rumah. Kondisi tersebut membuat konsumen menjadi enggan atau bersikap menunggu hingga rumah teraliri listrik.


    [+/-] Selengkapnya...

    Menpera Minta Pengembang Pertahankan Harga Rumah

    Selasa, Maret 23, 2010 Pekanbaru Properti 0 komentar

    JAKARTA (RP) - Desakan Real Estate Indonesia (REI) agar harga rumah dinaikkan terkait dengan rencana kenaikan tarif dasar listrik (TDL) sebesar 15 persen pada April mendatang, dinilai terlalu dini. Hal itu dikarenakan kenaikannya tidak secara keseluruhan, yakni untuk daya listrik 450 dan 900 watt saja.

    Menteri Negara Perumahan Rakyat (Menpera), Suharso Mo-noarfa, menyatakan bahwa pihaknya akan akan berupaya meminta ke Menteri ESDM agar daya listrik 900 watt tidak dinaikkan. “Karena dengan kenaikan ini yang terkena dampaknya justru konsumen,” kata Suharso Mo-noarfa di kantornya, Jumat (19/3).

    Menteri asal PPP itu justru mengaku heran jika REI menghubung-hubungkan kenaikan TDL dengan harga perumahan. “Saya tidak tahu apa yang mereka kaitkan dengan kenaikan TDL ini. Apakah karena akan memasukkan listrik di wilayah perumahan, atau persoalan bahan baku?” ucapnya.

    Suharso menegaskan, bahwa untuk rumah dengan listrik berkapasitas 450 watt tidak akan ada kenaikan. Sedangkan rumah dengan daya listrik 900 watt, saat ini sedang diupayakan harganya tidak naik. “Saya pikir pengembang kita banyak yang membangun perumahan di bawah 900 watt. Jadi, tidak ada alasan untuk menaikkan harga,” katanya.

    Sebelumnya Suharso juga menyatakan, pemerintah tidak akan menaikkan harga perumahan untuk kalangan masyarakat berpenghasilan menengah (MBM), sekalipun TDL bakal naik. Dikatakan Menpera, rencana kenaikan TDL sebesar 15 persen pada April mendatang tidak akan memukul sektor properti secara keseluruhan. Sebab, kenaikan TDL hanya diperuntukkan bagi properti yang memiliki KVA tertentu. Yaitu properti atau perumahan yang memiliki KVA di atas 900 KVA. ”Saya rasa rencana kenaikan TDL untuk sementara tidak berdampak pada sektor properti,” ujar Menpera.

    Karenanya dia berharap para pengembang tetap membangun perumahan bagi MBM dan ma-syarakat berpenghasilan rendah (MBR). Sebab, dua sektor perumahan itu tidak mengalami kenaikan TDL.(esy/jpnn)


    [+/-] Selengkapnya...